Banner IDwebhost

Cenderamata TENUN-BATIK GEDOG WASTRA KLASIK PESISIRAN KHAS TUBAN

CenderaMata Batik Tenun

Sapujagad.Net -  Oleh : M. Dwi Cahyono

Tadi sore (24 Desember 2019) di MMI (Museum Musik Indonesia) saya mendapat cenderamata dari seorang rekan, yakni sahabat "CUNG", Ketua DKT (Dewan Kesenian Tuban), yang terkirim via Sam Malik. Cenderamata itu adalah "Wastra Tenun-Batik Gedog". Suatu karya seni-kriya wastra bercorak "klasik pesisiran" dari Kereg Tuban. Sembah nuwun atas hadiah istimewa akhir tahun, yang tentu bakal terus dikenangkan.

Wastra Gedog bukanlah sekedar produk "seni-kriya batik tulis", namun sekaligus adalah "kriya tenun tradisional", sehingga tepat untuk disebut dengan " "Wastra Tenun-Batik Gedog". Wadtra Gedog adalah contoh reprensentatif produksi " hulu-hilir", mulai dari tahap pemintalan benang, penenunan kain, pembalikan motif hias kain tenun, bahkan hingga penjualan produk. Suatu karya adiluhung arkhais (kuno), yang terbukti "mampu eksis" hingga kini. Wastra yang berkarakter lokal ini hanya dibuat di daerah pedalaman Tuban. Kain tenun dibuat dari bunga kapas yang dipintal menjadi benang, lantas ditenun menjadi kain menggunakan perangkat tenun manual yang apabila dioperasional keluarkan bunyi “dog…dog.. dog”, sehingga mendapat sebutan "Wastra Gedog", suatu toponimi yang onomatopais (sebutan berdasar bunyi sesuatu). Kain Gedog yang bertekstur kasar itu dibatik dengan tangan hiingga tercipta karya kriya yang sangat artistik dan unik.

Motif hias yang ditorehkan dengan canthing pada lembar kain tenun itu memperlihatkan pengaruh budaya Islam, Jawa, dan Tiongkok, yang terpadu secara harmonis dan berkarerikal, yakni karakter " eko-kultural pesisiran". Misalnya, gambar burung pada wastra tenun-batik Gedog, yakni jenis burung phoenix hong), merupakan pengaruh seni-rupa Tiongkok. Adapun notif bunganya berasal dari motif tradisional yang biasa ada pada area-area batik di Jawa. Sedangkan pengaruh Islam pada tenun-batik Gedog tergambar pada motif hias yang diberi nama "Kijing Miring". Nuansa warna kusam, seperti biru downker, nata merah, coklat kayu, ireng Meles, dsb. memberi karakter arkhaisnya sebagai wastra klasik yang "mentradisi".

Dahulu, tenun-batik Gedog hanya digunakan untuk upacara tradisional, seperti upacara pernikahan, pemakaman, sedekah bumi dan acara-acara sakral lainnya. Seiring dengan perkembangan zaman, tenun-batik Gedog diproduksi untuk berbagai keperluan, mulai dari fashion, dekorasi, dan aksesoris. Termasuk fungsi "cenderamata buat sahabat", yang pada hari ini diterimakan kepada saya. Sembah kasywun Cung atas tali mitranya. Salam.

Sangkaling, 25 Desember 2019
Griya Ajar CITRALEKHA